Language:
Berita
Minggu, 27 Maret 2011 12:38
Masyarakat Terus Gaungkan Penolakan (Pembangunan Pabrik Semen)

PATI, KOMPAS - Penolakan masyarakat Kecamatan Tambakromo, Kayen, dan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terhadap rencana pendirian pabrik semen terus berlanjut. Mereka berkomitmen mempertahankan kelestarian lingkungan hidup di Pegunungan Kendeng Utara itu demi generasi mendatang dari ancaman kerusakan lingkungan.

Perwakilan Gabungan Pemuda Ngerang (Gamurang), Agus Jatmiko, Minggu (27/3) di Pati, mengatakan, Pegunungan Kendeng Utara yang kaya bahan baku semen menjadi incaran perusahaan-perusahaan besar. Sebelumnya, PT Semen Gresik mengincar kawasan Sukolilo, dan kini PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) sedang menjajaki kawasan Tambakromo.”Pegunungan Kendeng Utara sangat berarti bagi kami karena merupakan sumber air bagi masyarakat dan pertanian. Untuk itu, kami akan selalu menolak pembangunan pabrik semen,” kata Agus.

Berdasarkan data yang dihimpun Gamurang, Pegunungan Kendeng di kawasan Tambakromo memiliki 15 sumber air yang terlihat di permukaan. Adapun sumber-sumber air yang masih di dalam tanah akan didata dengan melibatkan akademisi.

Rencananya, PT SMS akan berinvestasi membangun pabrik semen senilai Rp 5 triliun. Lebih kurang ada 14 desa di Kecamatan Tambakromo bakal menjadi area penambangan.

Sabtu lalu, konsultan PT SMS yang akan membuat analisis dampak lingkungan (amdal) diusir warga Kecamatan Tambakromo. Melihat massa yang cukup banyak, tim konsultan yang baru beberapa menit mewawancarai dua keluarga itu meninggalkan desa.

Tokoh masyarakat Desa Ngerang, Karsono (45), meminta Pemkab Pati lebih berpihak kepada masyarakat, khususnya petani dan lingkungan hidup. Pasalnya, selama ini pemerintah lebih mengedepankan investasi dan cenderung mengorbankan lingkungan hidup.

”Kalau Pegunungan Kendeng Utara di daerah kami ditambang, hal itu akan berdampak sangat luas. Selain sumber air akan semakin mengecil, banjir di daerah hulu akan semakin parah,” kata Karsono.

Sebelumnya, masyarakat Kecamatan Sukolilo terus-menerus menolak rencana pendirian pabrik semen senilai Rp 3 miliar oleh PT Semen Gresik. Akhirnya, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menunda pembangunan pabrik semen itu dalam jangka waktu tak terbatas sehingga investor beralih ke Kabupaten Rembang. (HEN)

Air bersih di Indonesia tidak dikelola secara benar. Beberapa daerah mengalami kekeringan padahal menurut data yang ada daerah tersebut memiliki air tanah yang melimpah. Reboisasi tidak dilakukan di tempat yang tepat agar efeknya optimal. Akibatnya konservasi air bersih tidak bisa ditawar lagi.

Hal-hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Ir. Hendarmawan M.Sc dari Lab Geologi Lingkungan dan Hidrogeologi Universitas Padjajaran pada saat Workshop Mendalami Masalah Pengelolaan Sumber Daya Air Tanah di Jakarta, Kamis(19/8).

Berdasarkan data yang diperolehnya pada tahun 2004, Hendarmawan mengatakan seharusnya Indonesia surplus air. "Menurut data UNESCO tahun 2003, Indonesia mendapat kucuran air secara cuma-cuma dengan curah hujan 2.700mm," ucapnya menerangkan data di presentasinya. "Tapi, dibandingkan dengan negara-negara gurun, kita kalah dalam me-manage air."

Dari seluruh air yang ada di Indonesia, hanya 16 persen air tanah yang dapat diperbarui. Menurut Hendarmawan, itu membrihatinkan. "Konservasi tidak bisa ditawar lagi," tegas Dekan Fakultas Teknik Geologi itu. Konservasi tidak hanya untuk menjaga keberadaan air, tapi juga untuk meningkatkan kualitas air.

Sayangnya, konservasi di Indonesia terkendala dengan masalah data yang sangat minimal karena minimal pula jumlah stasiun iklim di Indonesia. Kesulitan dalam memperoleh data juga dialami oleh Zaki Yamani, wartawan Harian Umum Pikiran Rakyat pada saat melakukan liputan investigasi tentang air. "Untuk menghitung jumlah air yang dieksploitasi pada satu titik mata air, saya harus menghitung jumlah tiket yang terkumpul. Saya kalikan jumlah tiket itu dengan ukuran tanki yang dipakai warga menampung air," jelasnya. Petugas di lapangan tidak tahu jumlah air yang dikeluarkan per hari. "Padahal, kalau begitu datanya ada, anak kecil pun bisa tahu jumlah air seimbang atau tidak. Yah enteng-enteng susah jadinya," ujar Hendrawan diakhiri tawa.

Konservasi air ini belum dapat perhatian dari berbagai pihak karena di Indonesia, air masih dianggap berlimpah dan dapat diperbarui. Tapi, air yang berlimpah belum menjamin jumlah air bersih. "Betul air dapat diperbarui, tapi dalam waktu berapa generasi?" Hendarwan bertanya tanpa mengharap jawaban.

« Back to archive Berita | | |
Berita Linked
List Comment
Comment
Name :
Email :
Website :
Title Comment :
Comment :
Code :
Letter code above the input fields bellow
 
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno