
Kamis, 19 April 2012 12:49Demokratisasi Air DKI Jakarta
“Tatap Muka Cagub-Cawagub dengan Warga Jakarta; Warga Bertanya Kandidat Menjawab”
Bagi Jakarta sebagai ibukota negara Republik Indonesia dengan ambisi sebagai Poros Komunitas ASEAN 2015, kondisi pengelolaan air dan sanitasi adalah potret yang memalukan. Inilah potret kota yang berkembang secara alamiah, tanpa perencanaan, tanpa kepemimpinan. Jakarta adalah contoh pengelolaan asal-asalan.
Mejelang Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur tahun ini, semua sisi kekacauan ibukota kembali menyeruak, disertai juga dengan harapan-harapan akan formasi kepemimpinan baru. Dan seperti kebiasaan-kebiasaan dalam setiap proses politik di Indonesia; janji-janji yang dibalut dengan konsep-konsep canggih kembali digelar. Akankah PILKADA kali ini memberikan ruang bagi warga DKI Jakarta untuk kembali berani berharap mendapat haknya sebagai WARGA? Semua akan diuji pada kualitas proses demokrasi yang akan berlangsung.
Demokrasi tidak boleh berhenti hanya sebagai prosedur dan institusi belaka: pemilu, parpol, pilkada, tetapi juga kebijakan, program, hasil, dan perbaikan kesejahteraan umum. Dengan kata lain, Demokrasi tidak boleh berkutat pada “input” (pemilu), tetapi melupakan “output” (rule of law, imparsialitas, kualitas pemerintah, korupsi berkurang, pelayanan public lebih baik, jaminan sosial, keterlibatan warga dll).
PETISI MASYARAKAT SIPIL
MENUNTUT PENGHENTIAN KONTRAK KONSESI LAYANAN AIR BERSIH JAKARTA
Pesan kepada Bapak Fauzi Bowo sebagai Gubernur Daearah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta untuk mengambil tindakan tegas dalam melindungi hak warga Jakarta atas air dengan menghentikan kontrak konsesi layanan air bersih di Jakarta.
Konsesi Air di Jakarta
Dukungan dapat dilakukan dengan mengirimkan email ke kruha@kruha.org dengan menyantumkan nama, organisasi, asal daerah/negara.
PETISI
Pesan untuk Dewan Direktur Bank Pembangunan Asia (ADB): Agar tidak menyetujui ICWRMIP (Integrated Citarum Water Resource Management Investment Program) sampai terjadi perbaikan-perbaikan yang terukur.
Dokumen-dokumen pelindung dan persiapan proyek tidak sesuai dengan kebijakan-kebijakan ADB sendiri. Resiko sosial jauh lebih besar daripada potensi keuntungan dari rencana hutang ini.
| Page: [1 - 1] | 1 |
Minggu, 20 Maret 2011 13:51Kitab ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk mengingatkan...
Minggu, 20 Maret 2011 12:56Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...
“Sekarang air di daerah...
Sabtu, 07 Mei 2011 12:10 Minggu, 20 Maret 2011 11:23 Dalam rangka memperingati...
Italia; Referendum adalah masalah demokrasi
Diskusi Air Perkotaan dan Permasalahannya
Setiap tanggal 22 Maret,...
Suka atau tidak suka,...
Sebagai bagian untuk...
Sebagai bagian dari upaya untuk menolak praktek-praktek privatisasi air khususnya di...