Language:
Artikel
Kamis, 27 Oktober 2011 10:17
Layanan Air Bersih Jakarta; Tersesat Dalam Jebakan Privatisasi

Oleh: Hamong Santono

Senin 6 Juni 2011, ratusan masyarakat Jakarta mendatangi Balaikota Pemerintah Provinsi Jakarta menuntut  Gubernur Jakarta untuk menghentikan privatisasi layanan air bersih di Jakarta. Apa yang dilakukan oleh ratusan masyarakat tersebut bukanlah hal yang pertama kali dilakukan dan sejatinya merupakan bagian dari ekspresi kekesalan atas buruknya layanan air bersih di Jakarta yang telah diprivatisasi sejak 13 tahun lalu.

Jumat, 08 April 2011 10:10
Negara yang Melupakan Air Bersih

Akses terhadap air bersih masih menjadi salah satu persoalan pembangunan di Indonesia. Kurang dari 50%  rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses ini. Tidak perlu terlalu jauh untuk melihat bagaimana sebagian rakyat Indonesia begitu sulitnya mendapatkan air bersih dan kalaupun ada harus membayarnya dengan harga yang mahal. Di Jakarta, kita bisa melihat situasi ini di daerah Muara Baru Penjaringan misalnya, atau jika ingin berjalan lebih jauh kesulitan mendapatkan akses air bersih dan sanitasi bisa terlihat di sepanjang bantaran Kanal Tarum Barat, Bekasi.


Kamis, 24 Maret 2011 11:24
Air dan Tanggung Jawab Kita di Akhirat

Oleh: M. Anwar Djaelani

MANUSIA adalah makhluq yang tak mungkin terpisahkan dari air. Malah, tubuh kita sebagian besar terdiri dari air/cairan. Saat anak-anak, ada sekitar 75%-80% komponen cairannya. Lalu, kala dewasa, terdapat sekitar 60% komponen cairannya. Khusus otak, memiliki komponen air sebanyak 90%.
Kita selalu memerlukan air. Khusus untuk minum, secara umum, ada patokan bahwa rata-rata manusia memerlukan sekitar 2,5 liter (2500 ml) air tiap hari. Sementara, secara khusus, ada yang menggunakan ‘rumus’ 30 ml – 40 ml per kg berat badan per hari.


Kamis, 24 Maret 2011 11:11
Hak Rakyat atas Air (Catatan Hari Air Sedunia, 22 Maret 2011)

Oleh : Launa, Sip., Mm,

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20jd=Hak+Rakyat+atas+Air+%28Catatan+Hari+Air+Sedunia%2C+22+Maret+2011%29&dn=20110324031846

KabarIndonesia - Di Jakarta, miringnya banyak gedung bertingkat, munculnya rongga di gedung, dan banyaknya ruas jalan yang ambles adalah konsekuensi logis dari eksploitasi air tanah secara berlebihan dan terus-menerus, serta makin besarnya beban tanah akibat berat bangunan yang mendorong terjadinya pemampatan lapisan tanah.

Dalam "Will Jakarta Be The Next Atlantis", Nicola Colbarn menyatakan, jika pemanfaatan berlebihan tidak dapat dihentikan, dan pemerintah tidak menjalankan komitmennya terhadap penggunaan air tanah yang berkelanjutan, maka pada tahun 2030, Jakarta akan menjadi Atlantis kedua, tenggelam dan hilang (Kompas, 20/9/10).


Selasa, 15 Maret 2011 18:42
Sulitnya Mendapatkan Air Bersih di Jakarta; Cerita Dari Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara

Bagi sebagian besar warga Jakarta, mengandalkan air perpipaan untuk kebutuhan sehari-hari bisa jadi merupakan kesalahan besar (dalam catatan BPS 2010, hanya 25% warga Jakarta yang mendapat akses layanan air perpipaan). Pasokan air yang tidak kontinyu, dan kualitas air yang buruk, menjadikan banyak warga tidak percaya terhadap air perpipaan. Sebagian warga yang mampu, banyak  menggunakan air tanah sebagai sumber kehidupan mereka sehari-hari, itupun dengan catatan air tanah yang ada masih cukup layak untuk dikonsumsi. Jikapun tidak, mereka akan mencari sumber alternatif lain termasuk air kemasan.


Minggu, 13 Maret 2011 18:00
Citarum and IWRM: A Guinea Pig for ADB

by: Hamong Santono (KRuHA) and Diana Goeltom (debtWATCH Indonesia)

Citarum, a river 270 km long, is one of the important rivers in Java. Millions of people, especially those who live in Jakarta, are dependent on this river for their needs in agriculture and industry, and for their supply of clean water. Without the Citarum River, Jakarta would be a dead city since 80% of its water supply comes from the mentioned river. Ironically, it may no longer be sufficient to call Citarum as the river which can guarantee millions of lives. Many are now reporting Citarum as the longest ‘trash bin’ in the world.[1]


Minggu, 13 Maret 2011 17:14
Jakarta dan Ekstraksi Air Tanah Berlebihan

Amblesnya Jakarta yang ditandai dengan miringnya gedung-gedung bertingkat, amblesan tanah, kemunculan rongga di gedung, dan amblesnya ruas jalan adalah konsekuensi logis pengambilan air tanah berlebihan secara terus- menerus, serta makin besarnya beban tanah akibat berat bangunan yang mendorong terjadinya pemampatan lapisan tanah.

Di Jakarta, layanan air leding perpipaan belum mampu melayani seluruh penduduk. Hal ini membuat sebagian besar penduduk Jakarta bergantung pada penggunaan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari sehingga mendorong ekstrasi air tanah dalam jumlah besar.


Minggu, 13 Maret 2011 17:07
Jaminan Hak atas Air

PER 1 April nanti, PDAM Tirta Moedal berencana menaikkan tarif yang dikenakan kepada para pelanggan. Alasannya tanpa kenaikan tarif tidak akan pernah ada perbaikan pelayanan. Alasan lain telah sekian tahun tarif tidak pernah dinaikkan.
Terlepas dari alasan itu, ada masalah lebih mendasar yang tidak pernah disampaikan kepada publik bagaimana negara mengatasi hal itu.

Permasalahan kebutuhan air dan kenaikan tarif tidak semata-mata menjadi problem masyarakat Semarang. Karena itu tulisan ini akan memaparkan problema mendasar itu, terutama terkait dengan peringatan Hari Air Sedunia pada 22 Maret.


Jumat, 04 Maret 2011 14:29
Access to Clean Water : A Problem for Indonesia

Hamong Santono, Jakarta | Sat, 04/05/2008 12:43 PM | Opinion

Access to clean water is one of Indonesia's biggest problems. According to the Millennium Development Goals (MDGs) Report 2007, published by the National Development Planning Board, piped water is accessible to 30.8 percent of households in the country's cities and 9 percent in its villages.

Such figures show the limitations of the municipality's water service provider, PDAM

Lack of investment in clean water is one reason PDAM gives for its limited outreach. Based on a government statement, to meet the MDGs target by 2015, Indonesia needs Rp 43 trillion (US$4.6 billion) in clean water funding. The government currently provides Rp 500 billion.In order to close the funding gap, the government expects private investment in drinking water infrastructure.


Kamis, 25 Agustus 2005 15:43
Privatisasi PAM Jaya: Studi Kasus di Jakarta Bagian Timur, Indonesia

(Nur Endah Shofiani*)

Pada penghujung tahun 1994, hanya 36 persen dari 67 juta jiwa penduduk kota Indonesia yang memiliki akses ke air bersih. Diperlukan modal yang besar untuk diinvestasikan di sektor air. Oleh karenanya, untuk menarik minat investasi swasta, pemerintah Indonesia (GoI) memulai perubahan (transformasi) PDAM menjadi industri pelayanan yangberorientasi pelanggan dan menetapkan biaya pelayanan air yang didasarkan pada prinsip barang ekonomi dengan memperkenalkan konsep pemulihan biaya penuh (full cost recovery) dan bukan didasarkan pada konsep sosio-politik yang memperlakukan air sebagai barang publik.


Page: [1 - 1]
1
Minggu, 20 Maret 2011 13:51
Kemelut Sumberdaya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia

Kitab  ini adalah semacam lonceng bangun pagi (wake up call) untuk  mengingatkan...


Minggu, 20 Maret 2011 12:56
Air Sebagai Layanan Publik

Air Sebagai Layanan Publik mencoba mendeskripsikan kembali sejarah penyediaan layanan air...



© 2011 copyright Kruha.org
Best viewed Mozilla, Opera, Google Chrome
All Rights Reserved. Powered by oneTechno